Lemea, Makanan Unik Khas Suku Rejang

22.43 Abdurrahmansyah 0 Comments


   

sumber foto : https://1001indonesia.net/lemea-nikmatnya-makanan-khas-suku-rejang-bengkulu/

    Rejang adalah salah satu suku tertua yang ada di pulau Sumatera. Suku ini mendominasi provinsi Bengkulu dan banyak terdapat di kabupaten Rejang Lebong. Suku ini memiliki folklor yang kaya baik folklor lisan maupun folklor non lisan. Folklor ini terus diwariskan dari generasi ke generasi dan masih dilestarikan hingga masa kini. Salah satu folklor non-lisan yang ada adalah makanan khas. Ada banyak makanan khas suku rejang, namun salah satu yang unik dan khas yang akan kami bahas kali adalah Lema atau Lemea.

Lema berasal dari bahasa Rejang yakni Lemea yang berarti perasaan lemah atau tidak punya tenaga karena nikmatnya makanan tersebut. Lema telah ada pada suku Rejang sejak masa lampau dan sering disajikan pada perayaan hari besar keagamaan, sajian untuk tamu dari luar daerah atau pada acara pernikahan, dan sebagainya.

Lemea merupakan sejenis gulai yang disantap sebagai lauk atau teman untuk menyantap nasi. Lema memiliki bau yang khas dan unik yakni bau asam khas karena efek dari fermentasi dan pembusukan. Karena bau khasnya inilah, orang-orang yang bukan berasal dari Bengkulu sering menghindarinya. Padahal, Lema memiliki cita rasa yang sedap perpaduan dari rasa asam, pedas, gurih dan segar. Dan bau khasnya ini menjadi ciri khas dari Lema yang membuatnya berbeda dari makanan-makanan lain.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat Lema adalah :

1.      Rebung muda yang masih segar.

2.      Ikan. Ikan yang digunakan umunya adalah ikan mujair, sepat, ikan mas, dan ikan-ikan air tawar yang berukuran kecil-kecil.

3.      Bumbu berupa bawang putih, bawang merah, cabai merah dan rawit.

Cara pembuatan Lema terdiri dari :

1.      Rebung yang sudah dibersihkan dan dicuci dipotong tipis-tipis dan dicincang

2.      Campurkan ikan yang masih mentah dan segar yang telah dipotong-potong.

3.      Selanjutnya campuran rebung dan ikan ditambah dengan air. Adonan ini kemudian disimpan dalam wadah tertutup beralas daun selama sekitar tiga sampai lima hari untuk proses fermentasi. Semakin lama rebung didiamkan dalam wadah dan berfermentasi, semakin lezat pula aromanya.

4.      Air endapan lema diganti dengan air bersih tiap 8 jam sekali untuk menjaga kebersihannya. Selain itu, sebelum dimasak air endapan fermentasi terakhir dari Lema harus disaring terlebih dahulu sampai kering. 

5.      Setelah membusuk dan mengasam, Lema dimasak sesuai dengan selera. Lema bisa dimasak dengan campuran santan dan ditambah ikan lagi. Atau dibuat menjadi sambal dengan mencampurkan bumbu bawang putih, bawang merah, dan cabai sesuai selera kemudian ditumis hingga masak.

6.      Lema yang telah dimasak siap disajikan dengan nasi hangat dan biasanya ditemani oleh lalapan seperti kabau, jengkol, atau petai.

Pembuatan lema harus sesuai dengan resepnya dan dengan racikan yang tepat. Orang yang pandai meraciknya mampu membuat Lema tidak terasa asam dan berbau tidak enak.

Lema pada zaman dahulu biasa difermentasi menggunakan alat khusus bernama tajuo. Tajuo merupakan sejenis gentong yang terbuat dari tanah liat. Tetapi, tajuo sudah tidak banyak digunakan karena keberadaannya yang susah untuk diperoleh. Sebagai gantinya, orang-orang banyak melakukan proses fermentasi menggunakan toples atau ember.

Lema yang dipasarkan kini dibungkus secara modern dalam kaleng-kaleng seperti ikan sarden untuk wisatawan yang berkunjung ke Rejang Lebong dan memilih untuk membawanya sebagai oleh-oleh. Lema jauh lebih populer di Jepang karena lidah orang Jepang lebih cocok dengan cita rasa unik Lema. Karena itu, Lema rutin dieskpor ke negara tirai bambu tersebut.

Bahan utama Lema yakni rebung diketahui memiliki gizi tinggi. Rebung  mengandung banyak protein, karbohidrat, asam amino, dan antioksidan jenis filosterol. Selain itu, rebung juga mengandung tinggi serat sekaligus rendah lemak dan gula. 

0 komentar: