Kesenian Mistis dari Sumatera Barat, Lukah Gilo


        

sumber : https://media.beritagar.id/2019-03/1200x800_7026e14679a93eed1dbd249a2ba42ed745dfbc64.jpg

    Lukah Gilo adalah kesenian tradisional masyarakat Minang, Sumatera Barat. Kesenian ini mirip dengan jailangkung yang dikendalikan oleh seorang pawang. Istilah lukah gilo berasal dari bahasa Minang, di mana lukah berarti alat tangkap ikan yang terbuat dari anyaman rotan dan gilo berarti gila. Dengan demikian, lukah gilo dapat diartikan sebagai alat tangkap ikan yang terbuat dari rotan dan dapat bergerak ke mana-mana seperti orang gila.

    Lukah gilo adalah ritual mistis yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang suku Minang. Asal muasal adanya lukah gilo adalah ketika Pulau Sumatera dikuasai oleh Raja Adhityawarman. Kesenian ini penuh dengan kekuatan-kekuatan animisme dan dinamisme. Tentu tidak relevan dengan kepercayaan yang ada sekarang ini. Lukah gilo menebarkan aura mistis dan magis.

            Peralatan utama yang digunakan dalam lukah gilo adalah lukah. Lukah adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari anyaman rotan. Lukah memiliki bentuk memanjang dan menyerupai kerucut. Lukah didandani seperti manusia. Bagian ujung lukah yang lancip akan diberi batok kelapa yang merupakan lambang kepala. Di kanan dan kiri dipasang kayu melintang yang merupakan lambang tangan. Seperti manusia, lukah juga dipakaikan baju.

            Proses pementasan lukah gilo terdiri dari :

1)      Persiapan

2)      Pelaksanaan

3)      Penutup

 

Kesan dan pesan penulis setelah menonton video rekaman Lukah Gilo :

Kesan yang saya dapatkan ketika selesai menonton video sastra lisan ini adalah, saya merasa tersihir. Lukah Gilo yang ditampilkan sangat baik dan saya menjadi tenggelam ketika menonton video dokumentasinya. Selain itu, saya bersyukur bahwa Lukah Gilo masih ada dan dilestarikan oleh masyarakat Minang. Karena saya hanya melihat penampilan Lukah Gilo ini lewat rekaman dokumentasi, saya belum mendapatkan sepenuhnya perasaan dan getaran yang ingin disampaikan oleh para penampil. Hal ini menjadikan saya tertarik untuk menonton Lukah Gilo ini secara langsung.

Pesan yang ingin saya sampaikan setelah menonton Lukah Gilo adalah supaya Lukah Gilo masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat Minang. Karena jika tidak dijaga dan dilestarikan, budaya ini sewaktu-waktu bisa menghilang. Dengan menjaga budaya, kita menjaga identitas bangsa kita sendiri. Selain itu, saya berharap masyarakat luas menjadi mengenal Lukah Gilo dan sastra lisan lain yang ada di Minangkabau. Saya berharap semoga sastra lisan ini terus berkembang dan menjadi terkenal oleh masyarakat bukan hanya masyarakat dalam negeri, tapi juga masyarakat luar negeri. 

Songket Silungkang dan SISCA (Sawahlunto International Songket Silungkang Carnaval)

Tahukah kalian apa itu songket?

Songket yang berasal dari kata sungkit berarti cara menambah benang pakan dan benang emas pada benang lungsi. Kain songket merupakan salah satu budaya nusantara yang masih ada sampai sekarang dan pembuatan kain songket adalah salah satu mata pencaharian masyarakat. Terlebih di daerah Sawahlunto yang terkenal dengan Songket Silungkang-nya. Songket Silungkang dinamakan demikian sesuai dengan nama daerah penghasilnya, yakni Silungkang. Silungkang merupakan suatu daerah kecamatan yang terletak di kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Dalam rangka meningkatkan promosi Songket Silungkang, pada tahun 2015, pemerintah kota Sawahlunto menyelenggarakan sebuah perhelatan yang diberi nama SISCA. SISCA atau Sawahlunto International Songket Silungkang Carnaval digelar pada tanggal 28-30 Agustus 2015. Pergelaran karnaval internasional ini diadakan setelah pemerintah melakukan pembangunan Kompleks Pasar Songket yang terletak di dekat Kantor Camat Silungkang.

Sawahlunto International Songket Silungkang Carnaval (SISCA) ini adalah sebuah parade atau arak-arak yang melintasi jalan raya kota Sawahlunto yang menampilkan songket yang berasal dari Silungkang. Songket ini dibuat dengan bermacam-macam model seperti rumah gadang, bunga, payung, kuda kepang, dan model-model lainnya. Para penampil yang mengenakan kain songket ini didampingi oleh dayang-dayang di sebelah kiri dan kanan pada saat parade berlangsung.

            SISCA tahun 2015 melibatkan 1500 orang peserta yang mengenakan kain songket Silungkang dengan berbagai model. Pada saat pergelaran parade ini, tercatat 17.2980 orang warga mengenakan kain songket. Karena hal inilah Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan pada parade SISCA ini. Keberhasilan dan prestasi yang menyertai perhelatan ini membuat SISCA menjadi ajang tahunan yang dilaksanakan di kota Sawahlunto.

            Pada tahun 2016, pemerintah kota Sawahlunto kembali menggelar SISCA pada tanggal 25-27 Agustus. Pada tahun kedua ini, panitia SISCA memberikan persyaratan bahwa kreasi kain songket harus terdiri dari komposisi bahan yakni 80% songket dan 20% bahan campuran. Selain itu, tahun kedua ini mengusung tema tambang. Yang menghasilkan berbagai macam desain songket dengan astraksi tambang batubara.

Perhelatan pada tahun kedua ini akhirnya ikut menegaskan bahwa Sawahlunto merupakan Kota Wisata Tambang. Kota Sawahlunto sendiri pernah berjaya di zaman kolonial Belanda sebagai kota tambang batubara. Bahkan Sawahlunto pernah menyandang sebutan kota industri di dunia.

Penyelenggaraan SISCA ini akhirnya tidak hanya bertujuan untuk meningkatan promosi songket di kancah dunia. Lebih dari itu, adanya SISCA ini merupakan upaya pemerintah dan masyarakat kota Sawahlunto untuk tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai budaya yang diturunkan oleh nenek moyang. Sekaligus memegang tujuan luhur untuk mewariskan songket sebagai identitas budaya kepada generasi selanjutnya.

Mari kita semua berharap bahwa akan ada banyak kegiatan-kegiatan serupa yang mempromosikan budaya bangsa kepada masyarakat luas. Bukan hanya agar budaya itu dikenal oleh orang-orang semata, namun agar budaya itu tetap eksis dan lestari.



Penggunaan Jalan Untuk Tenda Hajatan : Benar atau Salah?


sumber foto : https://kabarwarta.id/detailpost/nekat-menggelar-hajatan-resepsi-pernikahan-di-kota-pasuruan-dibubarkan-paksa-polisi

    Penggunaan jalan raya dalam mendirikan tenda untuk hajatan sudah menjadi budaya sendiri di Padang. Jalan kemudian akan ditutup karena tenda yang didirikan memakan jalan raya itu. Akibatnya lalu lintas menjadi terganggu dan tersendat-sendat. Hal ini tentu mengganggu bagi sebagian besar pengendara. Namun, apakah sebenarnya menggunakan jalan untuk mendirikan tenda pernikahan ini diperbolehkan dalam undang-undang?

    Pada dasarnya penggunaan jalan selain untuk kegiatan lalu lintas diperbolehkan. Ketentuannya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan dan Jalan (UULLAJ), serta Perkapolri Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pengaturan Lalu Lintas dalam Keadaan Tertentu dan Penggunaan Jalan Selain untuk Kegiatan Lalu Lintas

    Dalam Pasal 127 UULAJ dijelaskan, penggunaan jalan untuk kegiatan di luar fungsinya, dapat dilakukan di jalan nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan jalan desa. Hal ini termasuk dalam penggunaan jalan untuk kegiatan pribadi yakni tenda pernikahan.

    Menurut saya pribadi, penggunaan jalan raya untuk mendirikan tenda pernikahan tidak mengapa karena hal ini sudah menjadi budaya di Indonesia. Meskipun tentu mengganggu kelancaran lalu lintas, saya rasa kebanyakan warga pun akan mafhum dengan hal ini karena sudah biasa. Tapi, tentu saja masih banyak warga lainnya yang tidak setuju dengan hal ini membuat mereka tidak nyaman dengan penggunaan jalan raya untuk tenda pernikahan. 

Lemea, Makanan Unik Khas Suku Rejang


   

sumber foto : https://1001indonesia.net/lemea-nikmatnya-makanan-khas-suku-rejang-bengkulu/

    Rejang adalah salah satu suku tertua yang ada di pulau Sumatera. Suku ini mendominasi provinsi Bengkulu dan banyak terdapat di kabupaten Rejang Lebong. Suku ini memiliki folklor yang kaya baik folklor lisan maupun folklor non lisan. Folklor ini terus diwariskan dari generasi ke generasi dan masih dilestarikan hingga masa kini. Salah satu folklor non-lisan yang ada adalah makanan khas. Ada banyak makanan khas suku rejang, namun salah satu yang unik dan khas yang akan kami bahas kali adalah Lema atau Lemea.

Lema berasal dari bahasa Rejang yakni Lemea yang berarti perasaan lemah atau tidak punya tenaga karena nikmatnya makanan tersebut. Lema telah ada pada suku Rejang sejak masa lampau dan sering disajikan pada perayaan hari besar keagamaan, sajian untuk tamu dari luar daerah atau pada acara pernikahan, dan sebagainya.

Lemea merupakan sejenis gulai yang disantap sebagai lauk atau teman untuk menyantap nasi. Lema memiliki bau yang khas dan unik yakni bau asam khas karena efek dari fermentasi dan pembusukan. Karena bau khasnya inilah, orang-orang yang bukan berasal dari Bengkulu sering menghindarinya. Padahal, Lema memiliki cita rasa yang sedap perpaduan dari rasa asam, pedas, gurih dan segar. Dan bau khasnya ini menjadi ciri khas dari Lema yang membuatnya berbeda dari makanan-makanan lain.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat Lema adalah :

1.      Rebung muda yang masih segar.

2.      Ikan. Ikan yang digunakan umunya adalah ikan mujair, sepat, ikan mas, dan ikan-ikan air tawar yang berukuran kecil-kecil.

3.      Bumbu berupa bawang putih, bawang merah, cabai merah dan rawit.

Cara pembuatan Lema terdiri dari :

1.      Rebung yang sudah dibersihkan dan dicuci dipotong tipis-tipis dan dicincang

2.      Campurkan ikan yang masih mentah dan segar yang telah dipotong-potong.

3.      Selanjutnya campuran rebung dan ikan ditambah dengan air. Adonan ini kemudian disimpan dalam wadah tertutup beralas daun selama sekitar tiga sampai lima hari untuk proses fermentasi. Semakin lama rebung didiamkan dalam wadah dan berfermentasi, semakin lezat pula aromanya.

4.      Air endapan lema diganti dengan air bersih tiap 8 jam sekali untuk menjaga kebersihannya. Selain itu, sebelum dimasak air endapan fermentasi terakhir dari Lema harus disaring terlebih dahulu sampai kering. 

5.      Setelah membusuk dan mengasam, Lema dimasak sesuai dengan selera. Lema bisa dimasak dengan campuran santan dan ditambah ikan lagi. Atau dibuat menjadi sambal dengan mencampurkan bumbu bawang putih, bawang merah, dan cabai sesuai selera kemudian ditumis hingga masak.

6.      Lema yang telah dimasak siap disajikan dengan nasi hangat dan biasanya ditemani oleh lalapan seperti kabau, jengkol, atau petai.

Pembuatan lema harus sesuai dengan resepnya dan dengan racikan yang tepat. Orang yang pandai meraciknya mampu membuat Lema tidak terasa asam dan berbau tidak enak.

Lema pada zaman dahulu biasa difermentasi menggunakan alat khusus bernama tajuo. Tajuo merupakan sejenis gentong yang terbuat dari tanah liat. Tetapi, tajuo sudah tidak banyak digunakan karena keberadaannya yang susah untuk diperoleh. Sebagai gantinya, orang-orang banyak melakukan proses fermentasi menggunakan toples atau ember.

Lema yang dipasarkan kini dibungkus secara modern dalam kaleng-kaleng seperti ikan sarden untuk wisatawan yang berkunjung ke Rejang Lebong dan memilih untuk membawanya sebagai oleh-oleh. Lema jauh lebih populer di Jepang karena lidah orang Jepang lebih cocok dengan cita rasa unik Lema. Karena itu, Lema rutin dieskpor ke negara tirai bambu tersebut.

Bahan utama Lema yakni rebung diketahui memiliki gizi tinggi. Rebung  mengandung banyak protein, karbohidrat, asam amino, dan antioksidan jenis filosterol. Selain itu, rebung juga mengandung tinggi serat sekaligus rendah lemak dan gula. 

Resensi Novel Kastel Terpencil di Dalam Cermin karya Mizuki Tsujimura

 


·        Identitas buku :

Judul               : Kastel Terpencil di Dalam Cermin

Penulis             : Mizuki Tsujimura

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama – M&C

Penerjemah      : Mohammad Ali

Tebal               : 496 halaman

Tahun terbit     : Cetakan ketiga, 2022

Rate                 : 4.5/5

 

·         Sedikit Tentang Isi :

Novel ini berpusat pada tokoh utama yakni Anzai Kokoro, seorang gadis kelas satu SMP. Karena sesuatu hal yang terjadi padanya, Kokoro meliburkan diri dari sekolahnya. Suatu hari, ketika Kokoro lagi-lagi menghabiskan waktu di dalam kamarnya, ia mendapati cermin besar di kamarnya memantulkan sinar. Ia mendekat dan menyentuh cermin itu dan seketika tubuhnya tersedot ke dalamnya. Di dalam cermin tersebut, Kokoro menemukan dirinya tengah berdiri di depan sebuah kastel dengan disambut oleh seorang gadis kecil yang menggunakan topeng serigala. Kokoro yang awalnya kabur dan kembali ke kamarnya merasa penasaran oleh kastel tersebut dan memutuskan untuk kembali ke dalamnya ketika cermin itu kembali bersinar keesokan harinya. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Kokoro menemukan dirinya di dalam kastel sesaat setelah tersedot oleh cermin. Di sebuah aula besar dengan dua tangga menuju satu buah jam besar, Kokoro menemukan enam orang anak SMP seumurannya juga berada di sana. Anak-anak itu terdiri dari empat orang laki-laki yakni Subaru, Masamune, Ureshino, dan Rion, dan dua orang perempuan yakni Aki dan Fuuka. Gadis kecil bertopeng serigala yang ditemui oleh Kokoro sebelumnya kembali menampakkan wujudnya. Gadis kecil bertopeng serigala itu kemudian menjelaskan bahwa Kokoro dan anak-anak lain diundang ke kastel untuk melakukan permainan. Permainannya adalah menemukan sebuah Kunci Permohonan yang terdapat di dalam kastel tersebut. Kunci Permohonan ini mampu mewujudkan satu buah permohonan, apapun itu. Dan perjalanan panjang Kokoro dan teman-temannya pun dimulai. Perjalanan berharga yang mengubah kehidupan mereka tentang bagaimana memandang sekolah sebenarnya, persahabatan dalam dunia anak-anak, hingga hubungan keluarga.

 

·       Disain sampul dan fisiknya

Disain sampul depan dari novel ini adalah gambar sebuah cermin dengan Kokoro, sebagai tokoh utama bersama dengan Dewi Serigala di dalamnya ditambah latar belakang kastel dengan bayangan enam orang anak kecil di pintunya. Disain ini sangat cantik dan memanjakan mata serta menggambarkan isi novelnya dengan pas sekali. Blurb yang ada di sampul belakang buku juga sangat efektif karena hanya memberikan secuil isi dari novel ini yang membuat saya sebagai pembaca penasaran dengan isinya.

 

·       Tokoh dan penokohan

1.      Kokoro, seorang gadis kelas satu SMP yang pendiam dan suka membaca buku.

2.      Rion, seorang laki-laki kelas satu SMP yang memiliki wajah tampan dan suka bermain bola

3.      Aki, seorang gadis kelas tiga SMP yang percaya diri dan berkarakter kuat

4.      Fuuka, seorang gadis kelas dua SMP yang pendiam dan senang bermain piano

5.      Masamune, seorang laki-laki kelas dua SMP yang suka berkata sesuka hati dan senang bermain game

6.      Subaru, seorang laki-laki kelas tiga SMP yang pendiam dan senang mendengarkan musik dan bermain game bersama Masamune

7.      Ureshino, seorang laki-laki kelas satu SMP yang suka makan dan mudah jatuh cinta

8.      Dewi Serigala, seorang gadis kecil penunggu kastel

9.      Tokoh-tokoh tambahan : Tojo, Ibu-nya Kokoro, Sanada, Bu Kitajima, dan lain-lain.

 

·         Kelebihan novel ini :

Novel yang merupakan terjemahan dari negara Jepang ini terasa enak dibaca karena terjemahannya yang mengalir. Diksi-diksi yang digunakan sangat tepat dan tidak terasa kaku.  Gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan mudah dicerna membuat buku ini juga cocok jika dibaca oleh anak-anak. Ketika membaca tidak ada typo atau salah ketik yang saya temukan sehingga tidak mengganggu proses membaca.

Meski mengusung genre magical-realism novel ini sangat mudah diikuti karena latar fantasinya digambarkan dengan jelas dan tidak membingungkan. Selain itu, karena novel ini lebih berfokus pada cara berpikir dan perasaan tokoh-tokohnya yang tertuang dalam dialog-dialog. Porsi dialog yang banyak mampu mengimbangi narasinya sehingga membuat saya tidak terlalu kebosanan sepanjang cerita. Konflik yang diangkat juga dekat dan terkait dengan kehidupan sehari-hari terlebih dengan kehidupan anak-anak muda, salah satunya mengenai perundungan. Novel ini dapat menjadi wadah becermin bagi pembacanya.

 

·         Kekurangan novel ini :

            Novel ini terbagi menjadi tiga bagian dan disampaikan dengan alur yang lambat. Untuk pembaca yang tidak terlalu suka dengan novel tebal dengan alur yang berjalan dengan lambat, tentu hal ini menjadi kekurangannya. Selain itu, novel ini menggunakan ukuran font yang kecil dengan spasi yang rapat, hal ini membuat pembaca tidak terlalu nyaman membacanya.

 

·         Kesimpulan :

Novel ini saya rekomendasikan kepada pembaca yang ingin mencari bacaan bergenre magical-realism dan penyuka novel-novel terjemahan dari Jepang. Novel ini cocok untuk dibaca segala umur dari anak-anak hingga dewasa karena mengangkat latar kehidupan sehari-hari yang relevan dengan konflik yang relevan pula, dan mampu untuk mengambil pesan-pesan kehidupan yang tersebar di dalam novel ini.


Diary ARKI 2016 (Day 2 : Hari Berlomba!!!)

sebelumnya saya minta maaf, karena saya tidak akan menceritakan dengan detail kejadian yang terjadi kepada saya karena saya sudah lupa ._. jadi, dimaafkanlah jika banyak scene yang di skip. maaf kalau bagian ini singkat sekali. 

Aku bangun pagi. Enggak terlalu pagi sih, soalnya udah lupa bangunnya jam berapa. Terus aku nunggu kak Faishal selesai mandi. Sudah mandi, giliran aku yang mandi. Aku minta udah kak Faishal soalnya aku mandinya lumaya lama :">

Udah mandi aku pake kaus kuning yang ada tulisan "ARKI 2016". Sesuai dengan info yang kudapat dari grup. Terus pake celana jeans. Celana jeans yang taunya sedikit kesusahan kupake soalnya agak sedikit sempit. Walau sempit ukurannya pas lho, terus panjang semata kaki pula.

Terus aku sama kak Faishal bersihin ranjang masing-masing. Pas udah mastiin kalau semuanya sudah rapi, kami segera keluar untuk kemudian menuju Ballroom! Pas di jalan kalau ga salah ketemu sama kak Rifli sama Kak Anto--kalau enggak salah ya :)--

Pas sampe ke lantai dasar, aku baru tau kalau sarapannya pindah ke coffe break. Dan disana udah rame banget! Hampir penuh! Untung masih ada tempat untuk kami! Setelah mengambil makanan masing-masing, kami langsung duduk di tempat yang tersisa :")

Kami makan dalam diam. Enggak diam-diam amat karena (seingatku) kami juga ngobrol. Tapi ngomongnya sedikit-sedikit soalnya masing-masing gatau mau bahas apa :")

Kak Enjel yang duduknya di belakang aku manggil aku terus nyuruh senyum (kalau kata Lala itu : Nasib jadi Imut :’v). Aku “agak” merasa risih soalnya kak Enjel manggil akunya berulang-ulang, terus pas liat aku ketawa gitu. Kan jadi gimana gitu (?)

Setelah semua peserta ARKI udah sarapan, semuanya disuruh ke depan Ballroom. Nunggu bus yang akan menghantar kami ke SMA 78 ; tempat dimana kami bertempur. Aku barengan nyari bus sama kak Faishal, tapi taunya kami harus berpisah karena kategori lomba kami beda. 

Aku masuk kedalam bus anak cerpen. Lebih tepatnya bus-anak-cerpen-cowok karena isinya anak cowok semua. Tempatku di belakang. Ga di belakang belakang amat karena di belakangku ada bangku paling belakang. Di sebelahku keknya gada yang ngisi (setauku) 

Jadi, di dalam bus aku gak ngapa-ngapain soalnya gada yang ngajakin ngobrol/nasib jadi satu-satunya peserta cowok yang masih kelas 8 dan polos/. Gada orang sepantaran diriku di dalam bus. Ada juga sih anak smp tapi duduknya ga deket aku. Aku awalnya mau duduk di sebelah dia tapi taunya udah ada orang di sebelahnya (namanya hastomok) 

Kami sampai di sma 78. Berjalan beriringan menuju gedung sekolah. Pas jalan kesana, Banyak anak 
yang duduk duduk gitu. Terus negur anak 78 yang ikut ARKI (kalau gak salah namanya kak kori) 

Kami berjalan ke aula. Sampai disana taunya udah ada orang yang nyambut. Anak-anak sma 78 terus banyak lagi. Disana ada cuap-cuap juga dari juri dan kakak LO. Banyaklah nanya ini-itu yang menurutku kurang penting. 

Aku duduk di sebelah kak sapa namanya!!! kak.. kak Rifli! Nah dibelakangnya ada si Rubi!!! aku udah kenal dia dan sempat chat juga sama dia. Terus kami ngobrol bareng gitu. Ngobrolnya juga engga banyak. Nanya-nanya ke temennya Rubi yang namanya kak Vivi. Dan taunya, mereka engga dari provinsi yang sama! dari mana mereka kenal.

Terus, di aula dikasih tau apa tema "sebenarnya" dari masing-masing kategori. 

Dan kategori cerpen dapet tema "My Trip With My Family". Padahal aku udah baca baik-baik buku panduan dan nemu "Keluargaku Inspirasiku" jadi tema cerpen! Tema itu malah dialihkan ke syair yang temanya aku gatau ._.

Sambil berjalan menuju ruangan lomba cerpen bersama kak Nada, aku mulai berpikir cerita apa yang nanti bakal kubuat. 

Sampe disana aku gatau mau duduk dimana ._. sebagiannya udah penuh sih ._. tips dariku : kalau kamu ikut lomba yang lombanya di ruang kelas gitu dan harus milih tempat duduk dan pesertanya banyak, cepet-cepet jalannya! usahakan masuk duluan supaya bisa duduk di depan!

Terus aku duduk di pojok kanan. Enggak pojok sih, di depan bangku pojok lebih tepatnya.

Di sana ada satu tempat kosong karena satunya sudah diisi oleh seorang perempuan yang kuyakini adalah panitia agak gemuk juga. Enggak gemuk sih, berisi! Namanya kugatau (karena selama arki, cuma nama kak ranie yang kutau :'>) dia pake jaket gitu! bukan jaket sih lebih tepatnya. Suiter unyuk-unyuk! 

Juri mulai gantian mengoceh, tapi ga seluruhnya mengoceh. Mereka ngoceh tentang teknisi lomba. Ini-itu dan sebagainya dan aku ga merhatiin!

Dan aku menyesal.

Kakak LO mulai ngebagiin kertas. Satu orang dua lembar kertas polio. Katanya kalau kurangan tinggal minta aja, gratis gausah beli! 

Aku awalnya bingung kenapa orang cantik disebelahku ini nerima kertas juga. Dan taunya, dia peserta juga! Namanya gatau! Soalnya pas aku ngintip ke kertasnya ga keliatan cuma keliatan kalau dia nulis nama. Soalnya dia pake pensil sihh.

Aku mulai nulis. Bukan nulis sih 

Tapi gatau mau nulis apa.

Terus aku liat orang yang duduk di depanku. Namanya Hastomo dan panggilannya Tom.

Seketika, aku pengen nulis pemeran utamanya bernama Tom. Jadilah aku nulis nama itu. Terus aku kepikiran buat cowok itu bertompel jadi sering dipanggil Tom.

Terus aku mulai nulis.

Ceritaku itu kira-kira gini :
Ada anak namanya Tom. Dia miskin terus Ayahnya pergi merantau udah lama gak pulang-pulang. Ayahnya pernah janji akan ajak dia ke Ibukota negeri. Tapi taunya ga balik-balik. Tom suatu hari diajak sama Ibunya. Pergi ke sebuah pemakaman yang jauuuh sekali. Tom bingung, taunya mereka ke pemakaman Ayahnya. Taunya ayahnya meninggal. Terus dia tersadar kalau itu mimpi. Terus perjalanan sama Ibunya dalam mimpi itu membuatnya menyimpulkan suatu hal. Suatu hal yang membuat Ibunya gak pernah menjawab pertanyaannya : “Kapan Ayah pulang?”

Kira-kira gitu.

Dan pembawaanya buruk bet. Dan gak full 4 halaman dan semuanya disampaikan dengan tersirat. Dan saya mengumpulkan naskah itu. Dan saya baru ingat saya tidak menuliskan nama sekolah saya melainkan nama kelas yang selalu saya ingat : Delapan E.

Dan saya minder denger judul temen-temen saya : “Strategi Sang Penguasa Ular” “Mawar dalam Mobil”.

Kece badai.

Jadi saya tidak yakin menang, dan benar tidak menang.

Terus sesudah lomba, kami semua balik lagi ke hotel. Disana dikasih makan, disuruh istirahat.
Dan setelah istirahat acara selanjutnya adalah Pembinaan Karakter sama Pengenalan Keluarga Sebangsa kalau ga salah.
Dan acaranya itu lama bet.
Dan anak-anak udah pada bosan.
Dan saya kasian sama bapak-bapak yang ngomong di depan yang mau tidak diacuhkan oleh kami.
Terus sudah itu ada acara tentang keluarga sebangsa, terus disuruh ngumpul sama kakak LO, terus disuruh nulis sesuatu gitu.
Terus disuruh balik lagi istirahat.
Malamnya adalah kegiatan penyerahan anak ARKI ke keluarga sebangsa.
Terus aku ketemu Ibu asuhku. Namanya Bu Agnes. Terus kami ngobrol, terus ada acara gitu. Terus sudah itu kami disuruh ngambil kover dan segala milik kami. Terus aku sama kak Diko pergi ke rumah keluarga sebangsa kami.
Terus disana kami tidur.

***


Untuk hari kedua sampai sini saja ya! Soalnya penulis lagi males. Soalnya penulis mau ngerampungin naskah yang ga rampung-rampung. Bye bye. Ditunggu hari selanjutnya. 

Diary ARKI 2016 (Day 1, Ooh... Ranselkuu)



Aku bangun sekitar pukul lima pagi. Pas bangun, ingatanku Cuma tertuju sama satu hal : ARKI. Setelah mandi aku langsung pakai baju. Celana juga. Saat itu aku Cuma fokus ke ARKI sampe lupa salat subuh :”v
Aku nge-line kak Faishal, nanya dia udah dimana. Katanya lagi salat subuh, sontak aku kaget bett. Pas liat jam udah mau pukul lima tepat. Jadilah aku ga salat :” . Aku nanya lagi ke Kak Faishal. Katanya udah dijalan.
Aku langsung mastiin kalau semuanya udah siap. Berkas-berkas, alat tulis, hingga alat mandi kucek di ranselku. Untunglah tidak ada yang belum dimasukkin. Kalau bajuku mah, Ibuku yang nyusun tadi malem, pastilah udah komplit semua.
Koperku udah Bapakku masukkin kedalam bagasi mobil. Tasku juga pastilah sudah dia masukkin. Setelah beberapa saat, kak Faishal datang. Dia dianter kakaknya. Setelah, Kakaknya kak Faishal pamit pulang, Aku, kak Faishal, Ibu, Bapak, dan Adikku masuk kedalam mobil.
Mobil berjalan. Aku diam. Sesekali kak Faishal bertanya, jangan tanya aku apa yang ditanyakan kak Faishal pas dimobil karena aku udah lupa :3
Jarak kotaku, Curup dengan ibukota provinsi Bengkulu cukup jauh. Sekitar 2,5 jam kalau ga macet. Kalau udah macet, bisa sampe 3 jam aku sampai. Bandar udara yang ada di Bengkulu cuma satu. Bandar Udara Fatmawati Soekarno.


Hasil gambar untuk bandar udara fatmawati bengkulu
Bandar Udara Fatmawati Soekarno

Sepanjang jalan, aku berusaha untuk tidur. Tapi gatau kenapa gabisa-bisa. Pas udah sampe ke area bengkulu, aku nengok kebelakang, tempat koperku, koper kak Faishal diletakkan. Pas kucek, aku kaget setengah mati!
Kamu tahu?
Ranselku
RANSEL YANG KUDUGA SUDAH DIMASUKKAN BAPAK KE BAGASI ENGGAK ADA!
Aku langsung gemetar. Sekaligus, yah takuttt gitu. Tiba-tiba perutku mules. Aku ga nikmati perjalanan yang kami tempuh. Padahal, sunrise yang dilihat dari luar jendela subhanallah indah sekali. Fokusku Cuma satu. RANSEL!
Setelah sampe ke bandara Soekarno hatta, aku segera keluar. Ngacir kearah wc bandara. Setelah perut mulesku sembuh dan apa yang ingin perutku keluarkan telah kukeluarkan, aku segera ketempat Bapak, Ibu, dan Kak Faishal duduk.
“Ranselmu mana?”
Aku gemetar. “Kan Bapak yang masukkin ke bagasi,” balasku. Cuma itu yang terlintas dipikiranku.
Ibu sama Bapak langsung panik. Aku juga panik! Pasalnya, berkas-berkas ARKI yang harus diserahkan pas registrasi itu semuanya disana! Alat-alat tulisku disana! Dan... alat-alat mandiku disanaaaaa!
Oh god.
Aku ga ngomong apa-apa saat itu. Aku berusaha sok sibuk dengan hpku dengan meladeni notifikasiku yang masuk. Bapak dan Ibuk berusaha menghubungi orang yang dirasa bisa mengantarkan ranselku. Setelah beberapa saat, aku bisa bernapas cukup lega ketika tahu, Dang Jun bisa mengantarkan ranselku.
CUKUP LEGA!
Karena kenapa? Sekitar setengah jam kedepan aku sudah take off! Sudah ada diatas pesawat! Aku makin panik. Aku kurang semangat pas Kak Nada sampai. Btw, kak Sesy udah lama sampai. Mendahului kami. Karena rumahnya enggak begitu jauh dari bandara ini.
Pas check in, kartu pelajar sekaligus tiket yang udah kuprint gaada. Untung Ayahnya kak Nada cerdik *ceilah. Dan untung juga, aku nyimpen file tiketku dalam HP.
Aku nunggu di depan pintu check in. Pikiranku masih fokus pada satu hal! Ranselku.
Ayahnya kak Nada keluar dari pintu check in. Dia ngasih boarding passku. Kuucapkan terima kasih padanya. Kakiku mulai melangkah kedalam ruang check in *aku gatau ruang apa namanya :’v. Kak Faishal sama Kak Nada udah nunggu aku di dalamnya. Kami berlari. Berlari keatas. Pas diatas, langkah aku sama kak Faishal dihadang petugas-petugas.
Oh god. Apalagi ini?
Kami berdua diinterograsi. Gegara aku ga ngasih tanda pengenalku, dia ga percaya kalau boarding pass itu punyaku. Kak Faishal jelasin kedia kalau ranselku ketinggalan tapi dia gamau tau!
Dia kemudian nanya, aku punya nomor hp ga. Aku jawab iya. Terus kak Faishal disuruh nelpon kehpku. Untung nomor yang ada di hp kak faishal betul. Jadi, otomatis hapeku bunyi dan si petugas percaya. Si petugas cewek cerewet yang gendut itu akhirnya memperbolehkan kami masuk. Aku masih inget banget, setebal apa alisnya waktu itu.
Aku sama kak Faishal masuk. Kak Nada taunya cari-cari kami tadi. Kami berempat—aku, kak Faishal, kak Nada, sama Kak Sesy—berlari (lagi!) menuju pesawat. Taunya, pesawatnya nunggu kami, karena kulihat, semua tempat duduk udah penuh, dan kami adalah orang terakhir yang check in. Alhasil, kami berempat duduk di barisan paling belakang. PALING BELAKANG SEBELAHAN SAMA TOILET!
Selama di dalam pesawat aku ga mikirin semegah apa hotelnya. Atau mirip aga enggak temen-temen yang tergabung dalam grup line. Pokusku Cuma satu! Aku jadi inget ucapan ayahku,
“Ranselmu entar di paketin aja.”
Aku jadi merasa bersalah. Karena keteledoranku, Ayah sama Ibukku jadi kena getahnya.
Aku gabisa tidur di pesawat. Kak sesy yang disebelahku tengah tertidur lelap. Sedang kak Nada di sebelahku tengah menggumamkan ayat-ayat Allah yang tidak kuketahui doa apa.
Kepalaku pusing. Pening sekali. Aku langsung ngambil kantung muntah. Sarapan pagiku tadi telah keluar semua. Maapin aku. Aku lupa bilang kalau sudah pakai baju aku sarapan :3
Kak Sesy juga muntah. Kami sampai di bandara. Kami menunggu giliran untuk keluar.    
Kami keluar. Mencari koper. Setelah ketemu, muter-muter. Keatas-kebawah, cari tempat dimana travel langganan kak Sesy parkir. Pas kami lagi duduk-duduk dilantai dasar, travelnya kak Nada ternyata udah nunggu. Kami berjalan, naik lift, ketemu mobilnya, masukkin kopernya, duduk di dalam, dan mobil mulai berjalan ke Hotel Mega Anggrek Jakarta.


Hotel tempat aku dan 59 peserta ARKI lainnya akan bermukim.


Kami sampai. Kami keluarkan koperk kami. Aku pinjem duit kak Faishal untuk sumbangan bayar travel karena uangku dalam ransel. Ya Allah, gimana kabar ranselku.
Tarikkan koperku gabisa dibuka. Akh, gimana ini. Kak Faishal yang liat aku kesusahan membawa koperku. Duh, aku jadi ga enak. Pasalnya, Koperku juga kak Faishal yang bawa selama muter-muter di bandara.
Kami sampe di ballroom. Duduk. Kak Nada diajak wawancara. Aku bertiga duduk. Setelah kak Nada selesai, kami bertiga registerasi. Aku gatau gimana mau ngomong ke Kakak panitia. Jadi, Kak Sesy bantuin aku.
“Kak, boleh gak kalau berkas-berkasnya bukan hari ini dikumpulin?”
Jawabannya sungguh tak terduga *ceilah. Dia bilang, berkas-berkasnya maksimal hari jumat nanti dikumpulin. Jadilah aku hanya mengisi formulir registerasi. Eh, ternyata dikasih totebag warna hitam dengan tulisan “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu”. Isinya ada topi, kaos oblong berwarna kuning dengan tulisan “ARKI 2016”, buku panduan, tumbler milea, blinder dan kotak pensil yang girly (punyaku ku kasih sama kakakku), apa lagi ya? Seingetku itu aja.


Penampakan totebagnya


Kami berempat masuk kedalam Ballroom. Koper-koper kami masih kami letakkan di depan tempat registerasi. Kami ketemu kak Alya sama Waffa. Kak Alya, Waffa, Kak Sesy, sama kak Nada disuruh wawancara. Sementara itu, aku sama kak Faishal mengisi perut.
Setelah kami mengambil makanan, aku sama kak Faishal duduk di salah satu meja yang kosong. Kami menikati makanan kami. Sementara itu, di sebelah kami, kelang satu meja ada anak ARKI yang juga lagi menikmati makanan. Sedang di sebelahnya, di satu meja di sebelah kiri kami berisi tapi ga ada orangnya. Ada satu sih. Si Asma! Aku inget banget si Asma kek orang gimana gitu xD Baca buku panduan sambil nutupin muka sama tuh buku.
Setelah beberapa saat, ada dua orang laki-laki yang mendekati kami. Dia izin duduk di dua bangku kosong di depan kami. Setelah kenalan barulah aku tahu namanya. Kak Rifli sama kak Anto. Kak Rifli dari sulteng sedang kak Anto dari... darimana ya? Lupa! Kupang. Iya Kupang! Kupang atau Mataram ya? Diantara keduanya deh.
Makanan kami belum habis, tapi kak Nada samperin kami suruh kami registrasi kamar hotel. Aku sekamar sama kak Faishal. Aku sama kak Faishal segera berjalan ke pintu lift. Masuk, pencet lantai tempat kami malam ini tidur (karena aku lupa kami di lantai berapa :”>) sampai, cari kamar, masukkin kartu kunci kamar ke tempatnya, masuk, dan meletakkan semua barang milik kami. Semua itu kami lakukan dengan terbang berjalan.

Kamarkuu yang bikin rinduu
Perkenalkan, namanya ka Faishal :v

Yaiyalah.
Kami duduk di atas kasur. Istirahat sebentar. Sambil nonton dan ngobrak-abrik isi totebag. Isinya udah tau kan?
Aku sama kak Faishal dapet kabar kalau kami harus berkumpul di ballroom. Padahal, kami baru saja menyeduh kopi kami :(
Aku sama kak Faishal matiin tv. Tanpa ba-bi-bu panjang lagi, kami berjalan kebawah. Hpku dua-duanya (samtpon dan hp nokia tanpa kamera) kutinggal didalam kamar. Kami sampai di ballroom, duduk di kursi yang udah di susun rapi. Ternyata udah banyak juga orang yang dateng. Kami duduk.
Acaranya ternyata acara perkenalan. Perkenalan sama juri-juri gitu. Terus apa lagi ya? Pokoknya. Ada cuap-cuap gitu dari masing-masing juri. Setelah selesai kami disuruh kembali ke kamar. Tak lupa, poto sama salah satu juri :”> Pak Boim.


(depan) Left to Right : Kak Rifli - Aku - Kak Faishal – De – Kak Sulthan – Pak Boim Lebon – Kak Rizal – Kak Anto – Kak Habib
(belakang) LtR : Kak Diko – Kak Farhan – Kak Arief


Kami berjalan kekamar. Pas sampai kamar, aku ngecek hpku. Pas cek hpku, ada beberapa panggilan tak terjawab. Aku telpon balik, taunya itu telepon dari kakak sepupuku, Kak Rio. Dia udah nunggu di bawah. Dan udah lama!
Aku jadi kasihan dan ga enak gitu :3 aku berlari kebawah, pas sampe taunya dia bawa ranselku!
Ya Allah.
Alhamdullilah.
Kau memang tidak pernah tidur.
Kuterima ranselku itu, dia ngomong beberapa patah kata. Kemudian setelah dia pergi, aku langsung ke ballroom. Ngasih berkas-berkas registrasi dengan wajah ceria. Dan kembali ke kamar.
Di kamar, banyak hal yang kulakukan. Main hp, nonton, liat hiruk-pikuk jakarta dari ketinggian. Dan kamu tahu? Jakarta dari ketinggian (maybe) sepuluh meter masih terasa panas.
Kami—aku sama kak faishal, jadi kalau aku sebut kami, itu aku sama kak Faishal—dapet kabar dari temen-temen di grup kalau harus ngambil baju batik di ballroom. Kak Faishal ngambilnya sedang aku dikamar.
Kami akan melaksanakan acara *ceilah pembukaan sesusudah waktu maghrib. Pakaian yang kamu gunakan itu batik yang diambil tadi. Jadi, setelah siap, *pastinya setelah mandi dan pakai baju, kami berjalan ke ballroom.


Panggung acara ARKI di Hotel Mega Anggrek 

Acara dibuka. Diawali dengan menyanyi lagu Indonesia Raya. Setelah itu, ada pidato pembukaan dari sederet orang-orang besar negara. Yang pasti orang-orang yang berkiprah di dunia pendidikan.  Ada pertunjukan-pertunjukan juga. Terus, acara diakhiri dengan berbaris rapi di depan panggung sembari mengucapkan “ARKI 2016, THE NEXT CREATORRR!”
Setelah acara berakhir, kami berkenalan satu sama lain. Ada yang diwawancara, ada yang ketemu keluarga sebangsanya. Dan aku juga ketemu keluarga sebangsaku! Bukan keluarga yang akan kutinggalin tapi anak ARKI yang serumah denganku. Namanya kak Diko, dari Bali.
Setelah semua acara selesai. Kami kembali ke kamar masing-masing, istirahat untuk melaksanakan acara besokkk! Dan aku juga udah enggak sabar lagiii!

Tunggu selanjutnya yaaa!